Tidak dapat dipungkiri bahwa fungsi motorik dalam
kehidupan manusia sangat penting, terutama jika seseorang itu ingin mengadakan
kontak dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam
sekitarnya. Maka peranan motorik sebagai sarana yang dapat mengantarkan
seseorang untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang dapat
mengantarkan seseorang untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang sangat
strategis, disamping kesertaan indra yang lain. Oleh karena itu, dengan
terganggunya fungsi motorik sebagai akibat dari penyakit, kecelakaan atau
bawaan sejak lahir, akan berpengaruh terhadap keharmonisan indra yang lain dan
pada gilirannya akan berpengaruh pada fungsi bawaannya.
Ditinjau
dari aspek psikologis, anak tunadaksa cenderung merasa malu, rendah diri dan
sensitif, memisahkan diri dari lingkungan. Disamping itu terdapat beberapa
problema penyerta bagi anak tunadaksa antara lain:
- Gangguan Penglihatan Anak Tunadaksa
Penelitian
tentang kekurangan atau gangguan penglihatan pada anak tunadaksacerebral
palsy menunjukkan bahwa sejumlah besar dari mereka juga mengalami penyimpangan
penglihatan.
- Gangguan Pendengaran Anak Tunadaksa
Masalah lain
yang dihadapi oleh anak cerebral palsy adalah gangguan
ketajaman pendengaran. Semula ada keraguan bahwa kerusakan otak dapat
berpengaruh pada kemampuan atau ketajaman pendengaran, sebagaimana kerusakan
otak berpengaruh pada kerusakan penglihatan. Hal ini didasari pemikiran bahwa
pendengaran tidak memiliki fungsi-funfsi motor, dan berbeda dengan penglihatan
yang dibantu otot-tot mata.
Kelainan
bicara yang dialami anak cerebral palsy antara lain dysarthria (gangguan
bicara pada bagian artikulasinya akibat lemahnya pengontrolan gerak), delayed
speech(gangguan bicara karena keterbelakangan mental dan disfungsinya
otak), voice disorder(gangguan pita suara), stuttering (gagap), serta
aphasia (gangguan bahasa verbal).
- Gangguan Presepsi Anak Tunadaksa
Gangguan
lain yang bersifat psikologis dari anak cerebral palsy adalah
gangguan presepsi. Presepsi dalam beberapa referensi disepakati mencakup
pendengaran (auditory), penglihatan (visual), sentuhan (tactile), serta
kepekaan modalitas yang lain. Secara kuantitatif anak tunadaksa ortopedi tidak
menunjukkan perbedaan dengan yang lain, sebab dalam beberapa studi memang tidak
terbukti dan problem penyesuaian diri lebih banyak terjadi pada anak tunadaksa
ortopedi maka harus dilihat dari tiga segi, yaitu:
- Sikap lingkungan masyarakat terhadap ketunadaksaan yang diderita anak.
- Sikap lingkungan keluarga terhadap ketunadaksaan yang diderita anaknya.
- Reaksi penderita sendiri terhadap sikap lingkungan dan terhadap kecacatannya. Dapat disimpulkan bahwa masalah untuk anak tunadaksa bukan saja karena kondisi fisiknya yang berkelainan, melainkan masalah sosial dan psikologis pun harus turut diperhatikan.
sumber: pengantar psikopedagogik anak berkelainan

1 komentar:
bloknya menarik,,, berisi mengenai individu yang bisa kita jadikan inspirasi bersama.. keren, kembangkan lagi
jangan lupa mampir di blogq juga ya http://yoga-k5113080-plbuns13.blogspot.com/
Posting Komentar