Kelainan anak yang dikategorikan sebagai penyandang
tunadaksa dapat dikelompokkan menjadi:
1.
Kelainan
tubuh
Anak tunadaksa ortopedi (orthopedically
handicapped) ialah anak tunadaksa yang mengalami kelainan, kecacatan, ketunaan
tertentu pada bagian tulang, otot tubuh, ataupun daerah persendian (Heward
& Orlansky,1988), baik yang dibawa sejak lahir maupun yang diperoleh
kemudian (karena penyakit atau kecelakaan), sehingga mengakibatkan terganggunya
fungsi tubuh secara normal. Contoh kelainan termasuk dalam kategori tunadaksa
ortopedi ini di antaranya: poliomyelitis, tubercolisis tulang, osteomyelitis,
arthbritis, paraplegia, muscle dystrophia, kelainan anggota atau anggota badan
yang tidak sempurna, cacat punggung, amputasi tangan, lengan, kaki, dan
lain-lain. Kelainan tubuh ini meliputi kondisi kekuranglengkapan anggota tubuh
yang dikarenakan sesuatu hal atau kejadian meliputi cacat sejak lahir dan
amputasi.
2.
Kelainan
syaraf dan motorik
Anak tunadaksa syaraf yaitu anak tunadaksa yang
mengalami kelainan akibat gangguan pada susunan syaraf di otak (Heward &
Orlansky, 1991). Otak sebagai pengontrol tubuh memiliki sejumlah syaraf yang
menjadi pengendali mekanisme tubuh sehingga jika otak mengalami kelainan,
sesuatu akan terjadi pada organisme fisik, emosi, dan mental. Salah satu bentuk
kelainan yang terjadi pada fungsi otak dapat dilihat pada anak cerebral palsy. Cerebral palsy berasal dari kata cerebral yang artinya otak, dan palsy
yang mempunyai arti ketidakmampuan atau gangguan motorik (Kirk,1970). Jadi, cerebral palsy memiliki pengertian
lengkap yakni gangguan aspek motorik yang disebabkan oleh disfungsinya otak.
Kelainan motorik pada dasarnya dapat dibedakan
menjadi kelainan otot (muscular) dan kelainan syaraf otot (neuromuscular).
Sedangkan kelainan otot banyak disebabkan karena adanya serangan polio yang
menyebabkan muscular persendian. Sedangkan
kelainan neuromuscular banyak disebabkan oleh adanya kelayuan otak (cerebral
palsy) yang berakibat pada anggota geraknya terganggu. Penderita cerebral palsy
kelayuhannya berbentuk simetris dapat hemiplegia, parapiegia, dan quadriplegia
bergantung pada area kerusakannya otanya. Sedangkan kelainan motoriknya dapat
berupa tremor, rigid, athtoid, dan ataxia pada penerita cerebral palsy sebagian
besar mengalami keterbelakangan mental. Sedangkan kelainan syaraf yang disebabkan
adanya spina befida dapat mengakibatkan adanya kelainan pada otot maupun
reseptor tactile, dikarenakan adanya kerusakan pada sumsum tulang belakang.
Penderita polio kelayuhannya tidak simetris dan memiliki kemampuan intelegensi
normal.
3.
Kelainan kesehatan
Kelainan kesehatan ini termasuk kelompok kelainan
kesehatan yang akut atau kronis, sehingga setiap saat anak harus rutin mendapatkan
perawatan medis di rumah sakit, meliputi anak penderita leukimia, terinfeksi
virus HIV (AIDS), atau yang memiliki kondisi abnormal pada berbagai organ vital
seperti kelainan jantung, paru-paru dan sebagainya.
sumber:
Heri Purwanto,1998
Dr. Muhammad Efendi, M.Pd., M.Kes,2005


0 komentar:
Posting Komentar