v Spasticity,
yaitu kerusakan pada cortex cerebri yang menyebabkan hiperactive reflex dan stretch
reflex. Spasticity dapat dibedakan menjadi:
a. Paraplegia,
apabila kelainan menyerang kedua tungkai.
b. Quadriplegia,
apabila kelainan menyerang kedua lengan dan kedua tungkai.
c. Himeplegia,
apabila kelainan menyerang satu lengan dan stu tungkai yang terletak pada
belahan tubuh yang sama.
v Athetosis,
yaitu kerusakan pada basal banglia yang mengakibatkan gerakan-gerakan menjadi
tidak terkendali dan tidak terarah.
v Ataxia,
yaitu kerusakan pada cerebellum yang mengakibatkan adanya gangguan pada
keseimbangan.
v Tremor,
yaitu kerusakan pada basal ganglia yang berakibat timbulnya getaran-getaran
berirama, baik yang bertujuan maupun yang tidak bertujuan.
v Rigidity,
yaitu kerrusakan pada basal ganglia yang mengakibatkan kekakuan pada otot-otot.
Klasifikasi
tunadaksa
Menurut
Frances G. Koening,tunadaksa dapat diklasifikasi sebagai berikut:
v Kerusakan
yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang merrupakan keturunan, meliputi:
a. Club-foot
(kaki seperti tongkat)
b. Club-hand
(tangan seperti tongkat)
c. Polydactylism
(jari yang lebih dari lima pada masing-masing tangan atau kaki).
d. Syndactylism
(jari-jari yang berselaput jatau menempel stu dengan yang lainnya).
e. Torticolis
(gangguan pada leher sehingga kepala terkulai kemuka).
f. spina-befida
(sebagain dari sumsum tulang belakang tidak tertutup).
g. Cretinism
(kerdil/katai).
h. Mycrocephalus (kepala
yang kecil tidak normal).
i.
Hydrocephalus
(kepala yang besar karena memiliki cairan).
j.
Clefpalats
(langit-langit yang berlubang).
k. Herelip
(gangguan pada bibir dan mulut).
l.
Congenital
hip dislocation (kelumpuhan pada bagian paha).
m. Congrenital amputation (bayi
yang dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu).
n. Fredresich ataxia (gangguan
pada sumsum tulang belakang).
o. Coxa valga (gangguan
pada sendi paha, terlalu besar).
p. Syphilis (kerusakan
tulang dan sendi akibat penyakit syphilis).
v Kerusakan
pada waktu kelahiran :
a. Erb’s palsy
(kerusakan pada syaraf lengan akibat tertekan atau tertarik waktu kelahiran).
b. Frgilitas osium
(tulang yang rapuh dan mudah patah).
v Infeksi:
a. Tuberkolosis tulang
(menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku).
b. Osteomyelitis
(Radang didalam dan disekeliling sumsum tulang karena bakteri).
c.
Poliomyelitis
(infeksi virus yang mungkin menyebabkan kelumpuhan).
d. Pott’s disease
(tuberkulosis sumsum tulang belakang).
e. Stll’s disese
(radang pada tulang yanag menyebabkan kerusakan permanen pada tulang).
f. Tuberkolosis
pada lutut atau pada sendi lain.
v Kondisi
traumatik atau kerusakan traumatik:
a. Amputasi
(anggota tubuh dibuang akibat kecelakaan).
b. Kecelakaan
akibat luka bakar.
c. Patah
tulang.
v Tumor:
a. Oxostosis
(tumor tulang).
b. Osteosisfibrosa cystica (kista
atau kantang yangg berisi cairan di dalam tulang).
v Kondisi-kondisi
lainnya:
a. Flatfeet (telapak
kaki yang rata, tida bertekuk).
b. Kyphosis
(bagian belakang sumsum belakang yang cekung).
c. Lordosis
(bagian muka sumsum tulang belakang yang cekung).
d. Perthe’s disease (sendi
paha yang rusak atau mengalami kelainan).
e. Rickets (tulang
yang lunak karena nutrisi, menyebabkan kerusakan tulang dan sendi).
f. Scilosis
(tulang belakang yang berputar, bahu dan paha yang miring).
sumber:
psikologi anak luar biasa
psikologi anak luar biasa


0 komentar:
Posting Komentar