Implikasi dalam konteks perkembangan kognitif menurut
Gunarsa dalam Efendi (2006:124) ada empat aspek yang turut mewarnai,
yaitu:
- Kematangan, kematangan merupakan perkembangan susunan saraf misalnya mendengar yang diakibatkan kematangan susunan sarat tersebut.
- Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organism dengan lingkungan dan dunianya.
- Transmisi sosial, yaitu pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.
- Ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak.
Untuk
mengembangkan fungsi kognitif sebagai alat adaptasi terhadap lingkungan, dapat
dilakukan melalui dua proses yang saling memengaruhi. Proses tersebut yakni
asimilasi (integritas elemen-elemen dari luar terhadap struktur yang sudah
lengkap pada organism) dan akomodasi (proses dimana terjadi perubahan pada
subjek agar bisa menyesuaikan terhadap objek yang ada di luar dirinya).
Tunadaksa di bagi menjadi dua yaitu tunadaksa ortopedi
dan tunadaksa saraf, meski keduanya termasuk dalam tunadaksa yang memiliki gejala
kesulitan yang sama, namun jika ditelaah lebih lanjut terdapat perbedaan yang
mendasar. Dari segi kognitif misalnya, wujud konkretnya dapat dilihat dari
angka indeks kecerdasan (IQ). Kondisi ketunadaksaan pada anak sebagian besar
menimbulkan kesulitan belajar dan perkembangan kognitif. Khususnya anak cerebral
palsy, selain mengalami kesulitan dalam belajar dan perkembangan
fungsi kognitifnya, mereka pun seringkali mengalami kesulitan dalam komunikasi,
presepsi, maupun control geraknya, bahkan beberapa penelitian sebagian besar
diketahui terbelakang mental (tunagrahita).
- Perkembangan Intelegensi Tunadaksa
Untuk mengetahui tingkat intelegensi anak tunadaksa
dapat digunakan tes yang telah dimodifikasi agar sesuai dengan anak tunadaksa.
Tes tersebut antara lain Hausserman Test (untuk anak tunadaksa
ringan), Illinois Test (The Psycholinguistis Ability),
dan Peabody Picture Vocabulary Test. Lee dalam Soemantri (2007:129)
mengungkapkan hasil penelitian yang menggunakan tes Binet untuk mengukur
tingkat intelegensi anak tunadaksa yang berumur antara 3 sampai 6 tahun sebagai
berikut:
- IQ tunadaksa berkisar antara 35-138.
- Rata-rata mereka adalah IQ 57.
- Klasifikasi tunadaksa yang lain yaitu:
- Anak polio mempunyai rata-rata intelegensi yang tinggi yaitu IQ 92.
- Anak yang TBC tulang rata-rata IQ 88
- Anak yang cacat konginetal rata-rata IQ 61
- Anak yang sapstik rata-rata IQ 69
- Anak cacat pada pusat syaraf rata-rata IQ 74
Pada anak
cerebal palsy, kelainan yang mereka derita secara langsung menimbulkan
kesulitan belajar dan perkembangan intelegensi. Mereka lebih banyak mengalami
kesulitan daripada anak tunadaksa pada umumnya. Mereka banyak mengalami
kesulitan baik dalam komunikasi, persepsi, maupun kontrol gerak. Hasil
pengukuran intelegensi anak cerebral palsy tidak menunjukkan kurva normal,
semakin tinggi IQ semakin sedikit jumlahnya.
- Perkembangan Kepribadian Anak Tunadaksa
Terdapat hal
yang tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian anak tunadaksa, antara
lain:
- Terhambatnya aktivitas normal sehingga menimbulkan perasaan frustasi
- Timbulnya kekhawatiran orang tua yang berlebihan yang justru akan menghambat terhadap perkembangan kepribadian anak karena orang tua biasanya cenderung over protective.
- Perlakuan orang sekitar yang membedakan terhadap anak tunadaksa menyebabkan anak merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain.
Hal-hal
sebagaimana dijelaskan diatas, efek tidak langsung akibat ketunadaksaan yang
dialami seseorang dapat menimbulkan sifat hargadiri rendah, kurang percaya
diri, kurang memiliki inisiatif, atau mematikan kreatifitasnya. Faktor dominan
yang memengaruhi perkembangan kepribadian atau emosi anak adalah lingkungan.
Atas dasar itulah presepsi sosial yang dapat menjatuhkan perasaan anak
tunadaksa akan berpengaruh terhadap self concept-nya. Hal ini disebabkan
sikap belaskasihan dari orang lain sering digunakan oleh tunadaksa. Hal lain
yang menjadi problem penyesuaian anak tunadaksa adalah perasaan bahwa orang
lain terlalu membesar-besarkan ketidakmampuannya. Ketiadaan kesempatan untuk
berpartisipasi praktis menyebabkan anak tunadaksa sukar untuk mengadakan
penyesuaian sosial yang baik. Demikian juga sikap masyarakat, secara langsung
atau tidak langsung memiliki pengaruh yang besar terhadap penyesuaian anak
tunadaksa. Sikap masyarakat terhadap anak kondisi ketunaan yang dialami anak
tunadaksa seringkali bertentangan dengan penilaian penderita sendiri.
Konfrontasi antara sikap masyarakat dengan penilaian anak sendiri terhadap
ketunaan, dalam mencari penyelesaiannya terdapat kemungkinan-kemungkinan sebagai
berikut:
- Anak tunadaksa mungkin sekali menolak respons lingkungan terhadap dirinya
- Mungkin pula anak tunadaksa meninggalakan sama sekali penilaian terhadap dirinya
- Atau mungkin pula anak tunadaksa mencari jalan tengah antara kedua respons di atas.
Berdasarkan latar belakang anak tunadaksa yang
mengalami kesulitan dalm proses penyesuaian sosialnya, berikut ini beberapa
petunjuk yang dapat digunakan anak tunadaksa dalam mencapai proses penyesuaian
sosial yang sehat antara lain:
- Hendaknya penderita menghadapi kenyataan secara objektif
- Menyadari masalah yang dihadapi di dalam interaksi sosial
- Mengusahakan mendapatkan pengobatan atau terapi semaksimal mungkin
- Mencari alat bantu atau prothese yang akan membantu meringankan hambatan yang disebabkan oleh kenetraannya
- Berusaha mendapatkan pendidikan
- Berupaya memberikan bimbingan dan penyuluhan
- Berusaha memusatkan perhatian pada kemampuan yang dimiliki
- Perkembangan Fisik
Aspek fisik merupakan potensi yang berkembang dan
harus dikembangkan oleh individu. Pada anak tunadaksa, potensi itu tidak utuh
karena ada bagian tubuh yang tidak sempurna. Potensi itu tidak utuh karena ada
bagian Secara umum perkembangan fisik anak tunadaksa dapat dikatakan hampir
sama dengan anak normal kecuali bagian-bagian tubuh yang mengalami kerusakan
atau bagian-bagian tubuh lain yang terpengaruh oleh kerusakan tersebut.
- Perkembangan Bahasa/Bicara Anak Tunadaksa
Setiap manusia memilki potensi untuk berbahasa,
potensi tersebut akan berkembang menjadi kecakapan berbahasa melalui proses
yang berlangsung sejalan dengan kesiapan dan kematangan sensori motoriknya.
Pada anak tunadaksa jenis polio, perkembangan bahasa/bicaranya tidak begitu
anak normal, lain halnya dengan anak cerebral palsy. Terjadinya kelainan bicara
pada anak cerbral palsy disebabkan oleh ketidakmampuan dalam kondisi motorik
organ bicaranya akibat kerusakan atau kelainan sistem neumotor. Gangguan bicara
pada anak cerebral palsy biasanya berupa kesulitan artikulasi, phonasi, dan
sistem respirasi.
Adanya
gangguan bicara pada anak cerebral palsy mengakibatkan mereka mengalami problem
psikologis yang disebabkan kesulitan dalam mengungkapkan pikiran, keinginan,
atau kehendaknya. Mereka biasanya menjadi mudah tersinggung, tidak memberikan
perhatian yang lama terhadap sesuatu, merasa terasing dari keluarga dan
temannya.
- Perkembangan Emosi Anak Tunadaksa
Banyak
masalah yang muncul sehubungan dengan sikap dan perlakuan anak-anak normal yang
berinteraksi dengan anak-anak tunadaksa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
usia ketika ketunadaksaan mulai terjadi turut mempengaruhi perkembangan emosi
anak tersebut. Anak tunadaksa sejak kecil mengalami perkembangan emosi sebagai
tunadaksa secara bertahap. Sedangkan anak yang mengalami ketunadaksaan setelah
besar mengalaminya sebagai suatu hal yang mendadak, disamping anak yang
bersangkutan pernah menjalani kehidupan sebagai orang yang normal sehingga
keadaan tunadaksa dianggap sebagai suatu kemunduran dan sulit untuk diterima
oleh anak yang bersangkutan. Dukungan orang tua dan orang-orang di
sekelilingnya merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan
kehidupan emosi anak tunadaksa. Orang tua anak tunadaksa sering memperlakukan
anak-anak mereka dengan sikap terlalu melindungi, misalnya dengan memenuhi
segala keinginannya dan memenuhi secara berlebihan. Di samping itu ada juga
orang tua yang menyebabkan anak-anak tunadaksa merasakan ketergantungan
sehingga merasa takut serta cemas dalam menghadapi lingkungan yang tidak
dikenalnya.
- Perkembangan Sosial Anak Tunadaksa
Keanekaragaman
pengaruh perkembangan yang bersifat negatif menimbulkan resiko bertambah
besarnya kemungkinan munculnya kesulitan dalam penyesuaian diri pada anak
tunadaksa. Sebenarnya kondisi sosial yang positif menunjukkan kecenderungan
untuk menetralisasi akibat keadaan tunadaksa tersebut. Nampak atau tidak
nampaknya keadaan tunadaksa itu merupakan faktor yang penting dalam penyesuaian
diri anak tunadaksa dengan lingkungannya, karena hal itu sangat berpengaruh
terhadap sikap dan perlakuan anak-anak normal terhadap anak-anak tunadaksa.
Sikap orang
tua, keluarga, teman sebaya, teman sekolah, dan masyarakat pada umumnya sangat
berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri anak tunadaksa. Dengan demikian
akan mempengaruhi respon sebagian terhadap lingkungannya. Ejekan dan gangguan
anak-anak normal terhadap anak tunadaksa akan menimbulkan kepekaan efektif pada
anak tunadaksa yang tidak jarang mengakibatkan timbulnya perasaan negatif pada
diri mereka terhadap lingkungan sosialnya. Keadaan ini menyebabkan hambatan
pergaulan sosial anak tunadaksa.
Di jaman
yang sudah demikian maju seperti sekarang ini, keberhasilan seseorang sering
diukur dari prestasinya dan di dalam masyarakat dikenal norma tertentu bagi
prestasi individu. Keterbatasan kemampuan anak tunadaksa seringkali menyebabkan
mereka menarik diri dari pergaulan masyarakat yang mempunyai prestasi yang jauh
di luar jangkauannya.
Secara umum
anak-anak normal menunjukkan sikap yang berbeda terhadap anak-anak tunadaksa
bila dibadingkan dengan sikap merkea terhadap anak-anak normal. Demikian pula
hanya sikap guru. Perbedaan perlakuan ini nampaknya berkaitan dengan refrence
group yang berbeda antara anak normal dan anak tunadaksa.
sumber
Dr.Mohammad Efendi, M.Pd, M.kes, 2007, Pengantar Psikologi Anak Berkelainan
Psikologi Anak Luar biasa
sumber
Dr.Mohammad Efendi, M.Pd, M.kes, 2007, Pengantar Psikologi Anak Berkelainan
Psikologi Anak Luar biasa


1 komentar:
artiklenya bagus dan menarik untuk dibaca, serta bermanfaat dan menmbah pengetahuan,
tapi gadget tulisan yang mengelilingi cursor menurut saya mengganggu sekali :)
Posting Komentar