Organ tubuh memiliki peranan sangat penting untuk mobilitas. Hal ini
disebabkan dengan memanfaatkan kedua jenis organ tubuh tersebut untuk dapat
melangkapi dan merealisasikan segala keinginan dalam bergerak dari satu tempat
ke tempat lain, baik yang dilakukan secara parsial maupun integral bersama
organ sensoris pendukung lainnya.
Apabila fungsi dari kedua anggota tubuh
tersebut mengalami gangguan, baik sebagian atau keseluruhan, yang disebabkan oleh luka pada
bagian saraf
otak ( cerebral palsy), kelainan pertumbuhan, ataupun amputasi, akan
memengaruhi mobilitas hidup yang bersangkutan. Berat dan ringannya
dampak yang menyertai kondisi ketunadaksaaan tergantung pada kelainan yang
dialami. untuk itu perlu adanya pemberian layanan khusus yang akurat untuk
membantu penderita kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa), secara langsung
maupun tidak langsung dalam memberdayakan kemapuan yang masih dimiliki secara optimal.
Persepsi
masyarakat awam terhadap anak kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa) bahwa anak
tunadaksa
(kehilangan salah satu atau lebih fungsi anggota tubuh). Padahal kenyataannya
banyak yang tidak mengalami kesulitan untuk meniti tugas perkembangannya tanpa
harus masuk sekolah khusus untuk anak tunadaksa (khususnya tunadaksa ringan).
Secara
etiologis,
bahwa seseorang mengalami kesulitan mengoptimalkan fungsi anggota tubuh
sebagai
akibat dari luka, penyakit, pertumbuhan yang salah bentuk, dan
akibatnya kemampuan untuk melakukan gerakan - gerakan tubuh tertentu mengalami
penurunan.
Secara
definitif tunadaksa dapat diartikan bahwa ketidakmampuan untuk melaksanakan
fungsinya yang disebabkan oleh berkurangnya kemampuan anggota tubuh untuk
melaksanakan fungsi secara normal akibat luka, penyakit, atau pertumbuhan
yang tidak sempurna (Duroyo, 1977) untuk itu perlu adanya layanan secara khusus untuk kepentingan dalam
pembelajaran (Kneedler, 1984).
sumber:
Heri Purwanto,1998
Dr. Muhammad Efendi, M.Pd., M.Kes,2005


0 komentar:
Posting Komentar